HENDAKLAH TERANGMU BERCAHAYA

  • 21 Apr 2024
  • Fulfilling God's Purpose

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16

Yesus berkata: "Kamu adalah terang dunia" (Mat. 5:14). Perbuatan yang baik mempunyai sumber terang dari dalam. Kunci untuk mengerti apakah terang yang bersinar melalui perbuatan baik adalah tujuan dari perbuatan itu, yaitu, orang yang melihat akan memberi kemuliaan kepada Allah. Mengapa mereka memberi kemuliaan kepada Allah dan bukan kepada kita? sebab terang yang bersinar keluar adalah terang Allah, atau terang dari Yesus yang adalah wahyu kemuliaan Allah.

Jadi apa maksud yang sebenarnya bahwa kita adalah terang dunia? Bagaimana perbuatan baik dari diri kita memperlihatkan kemuliaan Allah? Mungkin lebih bijak bila kita tetap dekat dengan konteks dari perkataan Yesus yaitu kamu diberkati ketika kamu dicela. "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga; sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat. 5:11- 12). Seketika setelah tuntutan untuk bersukacita di dalam aniaya datanglah pernyataan: "Kamu adalah garam dunia . . . Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:13-14). Untuk menyadarkan orang agar mempertimbangkan Allah sebagai penjelasan perbuatan baik kita, ketika mereka melihat kita "bergembira” di dalam kesukaran. Mereka melihat kesukaran, tidak membuat kita memikirkan dan mengasihani diri sendiri dan hilang semangat. Sebaliknya mereka melihat sukacita kita dan bertanya-tanya apa yang kita harapkan ketika penyangga harapan kita sudah disingkirkan.

Sekarang ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dan melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus. Keunggulan nilai kemuliaan Allah terlihat ketika Yesus menyatakan tuntutan-Nya dalam Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Yesus secara eksplisit mengatakan bahwa sasaran kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain ialah agar mereka memuliakan Allah.

Terkadang orang mengatakan banyak tentang kasih namun tidak berpusatkan pada Allah. Pengikut-pengikut Yesus bukan orang-orang yang hanya melakukan perbuatan baik tanpa sasaran kekekalan untuk orang yang mereka kasihi. Mereka tahu pasti apa yang terbesar dan tertinggi dan yang paling menggembirakan, yaitu: melihat dan menikmati Allah di dalam Yesus selama- lamanya. Ia menjelaskan alasan utama kedatangan-Nya pada saat kematian-Nya: “Sebab untuk itulah Aku datang ke dalam dunia saat ini. Bapa muliakanlah nama Mu! (Yoh. 12:27-28). D. A. Carson menyebut “tidak ada yang lain kecuali suatu artikulasi dan prinsip yang telah mengontrol kehidupan dan pelayanan Nya (Yoh 7:18). Sejak awal sampai akhir Yesus memancarkan terang-Nya, melakukan perbuatan baik-Nya, untuk membenarkan dan memancarkan kemuliaan Allah.

Yesus menganggap ini sebagai suatu perbuatan kasih yang tertinggi bukan saja karena telah dibayar dengan nyawa-Nya (Yoh. 15:13), melainkan juga menghasilkan anugerah yang terbesar yang diberikan dengan cuma-cuma kepada orang-orang berdosa. Yesus berdoa untuk mereka di Yohanes 17:24, "Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku." Ini adalah pemberian yang final, teragung, dan paling memuaskan yang dihasilkan oleh Yesus di dalam "perbuatan baik” yang la lakukan di atas kayu salib.