Bekerja Bagi Tuhan

  • GSJA Eben Haezer
  • Pelayanan
  • 17 May 2017

“Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan Tuhan dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedangNya dari penumpahan darah” (Yeremia 48:10)

Dalam Perjanjian Lama, melalaikan pekerjaan Tuhan akan mendatangkan kutuk. Dalam konteks pembacaan kali ini, penghukuman Allah atas Moab disebutkan dengan ‘pekerjaan Tuhan’. Kita tahu bahwa penghakiman Allah dalam Perjanjian Lama terkadang datang dengan seketika yang biasanya didahului dengan peringatan oleh nabi-nabiNya. Untuk melaksanakan hukumanNya, kerapkali Allah memakai nabi, raja, umatNya, atau manusia sebagai alatNya. Dan mereka yang tidak melaksanakan setiap firmanNya – seperti Saul yang tidak taat dengan tidak menumpas seluruh orang Amalek (1 Samuel 15:1-12) – disebutkan dengan tidak melaksanakan firmanNya atau melalaikan pekerjaan Tuhan.

Bagaimana dengan pengertian ‘pekerjaan Tuhan’ dalam Perjanjian Baru? Pada prinsipnya, melaksanakan kehendak Allah adalah sama dengan melakukan pekerjaan Allah (baca: Yohanes 4:34; 5:36). Tetapi dalam pengertian lebih lanjut, pekerjaan Tuhan dapat diartikan dengan melayani Tuhan sesuai dengan karunia dan talenta yang Tuhan berikan kepada kita. Ingat perumpamaan mengenai talenta (Matius 25:14-30). Pemalas yang tidak mau melipatgandakan talentanya tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ia adalah orang yang miskin. Dan orang yang miskin di hadapan Allah merupakan masalah besar (Lukas 12:20, 21; Wahyu 3:15-17)!

Jadi, pekerjaan Tuhan mengandung arti yang cukup luas, dan tidak hanya diartikan dengan berkhotbah atau melakukan pelayanan mimbar. Bersaksi, menolong orang dalam kesusahan, membagi-bagikan sembako, mendoakan orang sakit, dan sebagainya, itu juga adalah pekerjaan Tuhan. Dan percayalah bahwa pekerjaan kita selama di bumi akan mempengaruhi kemuliaan dan hadiah kita kelak!

Pekerjaan kecil bila dilakukan dengan hati besar dan sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil besar.